SHIFTORBIT — Ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia oleh UNESCO, Plengkung Gading, bagian penting dari Keraton Yogyakarta dan Sumbu Filosofi Yogyakarta, akan ditutup total pada 15 Maret 2025.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi bangunan cagar budaya tersebut lebih mengkhawatirkan dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga penutupan ini dilakukan.
Sekarang, dengan penutupan ini, masyarakat harus berjalan lebih jauh untuk mencapai wilayah yang lebih dekat.
Untuk melindungi Keraton Yogyakarta dari serangan musuh, Plengkung Gading, atau Plengkung Nirbaya, adalah salah satu dari lima pintu gerbang Benteng Baluwerti.
Gerbang ini dibangun antara tahun 1782 dan 1787 dan memiliki desain melengkung dengan bentuk terowongan di atasnya.
Area yang terletak di luar batas benteng dikenal sebagai Jeron Beteng, yang berarti “dalam benteng”.
Sebagaimana dilaporkan Kompas.id, selain menjadi satu-satunya gerbang di sisi selatan benteng, Plengkung Gading juga berfungsi sebagai jalan utama menuju lapangan besar Alun-alun Kidul, yang terletak di selatan Keraton Yogyakarta.
Bangunan ini telah menjadi salah satu ciri khas Yogyakarta sejak lama.
Makna sakral Plengkung Gading
Dalam budaya Keraton Yogyakarta, Plengkung Gading memiliki arti sakral selain berfungsi sebagai pintu gerbang.
Plengkung Gading telah lama menjadi simbol penting bagi Yogyakarta karena berfungsi sebagai gerbang yang menghubungkan Keraton dengan Alun-alun Kidul.
Tembok putih gading bangunan ini memiliki nilai historis dan dianggap sebagai gerbang sakral.
Sejak lama, sultan yang masih hidup dilarang melewati Plengkung Gading karena gerbang ini dianggap sebagai rute terakhir jenazah sultan yang akan dibawa ke Imogiri untuk pemakaman raja-raja.
Selain nilai-nilai budaya dan spiritualitas, keberadaan Plengkung Gading merupakan bagian dari filosofi kehidupan Yogyakarta.
Penutupan Plengkung Gading dilakukan untuk memungkinkan konservasi menyeluruh untuk pelestarian bangunan dan keselamatan bagi orang-orang yang melewati area tersebut.
Bangunan mengalami kerusakan yang lebih besar karena faktor usia dan lingkungan sejak 2015.
Penutupan ini adalah bagian dari upaya pelestarian, memberi para ahli kesempatan untuk memperbaiki dan menjaga warisan budaya yang sangat penting ini.
Menjaga cagar budaya sebagai bagian dari identitas dan sejarah bangsa sangat penting, seperti yang ditunjukkan oleh keberadaan Plengkung Gading sebagai gerbang sakral dan simbol budaya Yogyakarta.
Warisan budaya ini tidak hanya dilindungi melalui penutupan ini, tetapi juga dilakukan untuk memastikan bahwa warisan ini tetap ada untuk generasi berikutnya.
SUMBER YOGYAKARTA.KOMPAS.COM : Plengkung Gading, Sejarah Gerbang Sakral yang Kini Ditutup Total