
Jakarta – Tidak semua makanan yang dikenal sehat cocok dikonsumsi dalam jumlah banyak oleh penderita gangguan ginjal. Beberapa di antaranya justru mengandung kalium, fosfor, atau natrium yang perlu dikontrol.
Ginjal memiliki tugas penting untuk menyaring darah dan membuang berbagai zat sisa melalui urine. Organ ini juga membantu mengatur keseimbangan cairan serta mineral dalam tubuh.
Ketika fungsi ginjal menurun, kemampuan tubuh untuk membuang kelebihan mineral dan limbah tertentu ikut terganggu. Karena itu, pengaturan pola makan menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi penderita penyakit ginjal.
Menariknya, sejumlah makanan yang selama ini dianggap bergizi juga perlu diperhatikan porsinya. Dikutip dari Healthline, berikut beberapa di antaranya:
1. Alpukat
Alpukat kerap menjadi pilihan dalam pola makan sehat karena mengandung serat, lemak tak jenuh, dan antioksidan. Namun, buah ini termasuk makanan yang kaya kalium.
Satu buah alpukat rata-rata mengandung sekitar 690 miligram kalium. Jumlah tersebut cukup tinggi sehingga penderita gangguan ginjal yang harus membatasi kalium perlu berhati-hati.
Jika masih diperbolehkan oleh dokter atau ahli gizi, alpukat dapat dikonsumsi dalam porsi kecil, misalnya sekitar seperempat buah. Namun, kebutuhan setiap pasien berbeda sehingga porsinya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
2. Roti Gandum Utuh
Roti gandum biasanya dianggap lebih sehat daripada roti putih karena kandungan seratnya lebih tinggi. Namun, pilihan ini belum tentu menjadi yang terbaik bagi semua penderita penyakit ginjal.
Kandungan fosfor dan kalium pada roti gandum dapat lebih tinggi, terutama jika menggunakan banyak biji-bijian utuh.
Sebagai gambaran, satu potong roti gandum utuh seberat sekitar 36 gram mengandung kurang lebih 76 mg fosfor dan 90 mg kalium. Sementara itu, satu potong roti putih sekitar 28 gram mengandung sekitar 32 mg fosfor dan kalium.
Selain itu, beberapa produk roti juga mengandung natrium cukup tinggi. Karena itu, label nutrisi sebaiknya diperiksa sebelum memilih produk.
3. Pisang
Pisang memang praktis dan kaya nutrisi, tetapi kandungan kaliumnya tergolong tinggi. Satu buah pisang ukuran sedang dapat menyediakan sekitar 422 mg kalium.
Jika seseorang dengan gangguan ginjal sudah mendapat anjuran untuk membatasi kalium, konsumsi pisang juga perlu diperhitungkan.
Sebagai alternatif, nanas dapat menjadi salah satu pilihan buah dengan kandungan kalium yang lebih rendah dibandingkan sejumlah buah tropis lainnya. Namun, pilihan buah tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan diet masing-masing.
4. Susu dan Olahannya
Susu sapi mengandung protein, vitamin, serta mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Di sisi lain, minuman ini juga menyediakan kalium dan fosfor dalam jumlah yang perlu diperhatikan oleh penderita penyakit ginjal.
Dalam satu cangkir atau sekitar 240 mililiter susu sapi utuh terdapat kurang lebih 205 mg fosfor dan 322 mg kalium.
Asupan susu yang terlalu banyak, terutama jika dikombinasikan dengan berbagai makanan tinggi fosfor, dapat menjadi perhatian karena keseimbangan mineral pada penderita gangguan ginjal dapat terganggu.
Susu juga mengandung protein sekitar 8 gram per cangkir. Pada kondisi tertentu, pembatasan protein diperlukan untuk membantu mengurangi penumpukan produk limbah metabolisme di dalam darah.
5. Tomat
Tomat terkenal sebagai sumber likopen, vitamin C, vitamin K1, dan folat. Kandungan antioksidannya juga membuat tomat sering masuk dalam daftar makanan sehat.
Namun, kandungan kaliumnya perlu diperhatikan oleh penderita gangguan ginjal yang harus menjalani diet rendah kalium.
Jumlah kalium dapat menjadi cukup tinggi terutama pada produk olahan tomat. Sebagai contoh, satu cangkir atau sekitar 245 gram saus tomat dapat mengandung sekitar 728 mg kalium.
Bagi yang perlu membatasi kalium, saus paprika merah panggang dapat menjadi salah satu alternatif karena kandungan kaliumnya lebih rendah dalam setiap porsinya.
Bukan Berarti Harus Dihindari Sepenuhnya
Makanan-makanan tersebut tidak otomatis menjadi pantangan bagi seluruh penderita gangguan ginjal. Kebutuhan diet sangat bergantung pada tingkat fungsi ginjal, kadar mineral dalam darah, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.
Karena itu, jangan langsung menghilangkan makanan tertentu dari menu tanpa mendapatkan rekomendasi profesional. Dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan jenis makanan, jumlah porsi, serta batas kalium, fosfor, natrium, dan protein yang sesuai dengan kondisi pasien.
