
Jakarta – Banyak orang meyakini bahwa masakan rumahan selalu lebih sehat dan memiliki cita rasa yang lebih nikmat dibanding makanan dari luar. Anggapan ini memang memiliki dasar, tetapi tidak sepenuhnya berlaku dalam semua kondisi.
Bagi sebagian orang, makanan yang dimasak sendiri memberikan rasa nyaman karena bahan-bahannya diketahui, proses memasaknya dapat dikontrol, dan dibuat oleh orang yang dipercaya. Faktor emosional tersebut ikut memengaruhi persepsi bahwa masakan rumahan terasa lebih lezat sekaligus lebih baik bagi kesehatan.
Mengutip Times of India, memasak di rumah memang menawarkan sejumlah keuntungan. Seseorang dapat menentukan sendiri kualitas bahan yang digunakan, mengatur ukuran porsi, menjaga kebersihan selama proses memasak, hingga menyesuaikan rasa sesuai selera keluarga.
Dibandingkan makanan restoran atau produk siap saji, masakan rumahan umumnya juga mengandung lebih sedikit bahan pengawet serta tidak melalui proses pengolahan yang berlebihan. Selain itu, jumlah garam, gula, dan minyak dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Direktur Penyakit Dalam Yatharth Super Speciality Hospital, Faridabad, India, Dr. Santosh Kumar Agrawal, mengatakan bahwa anggapan masakan rumahan lebih sehat memang dapat dibenarkan selama proses memasaknya dilakukan dengan tepat.
Menurutnya, memasak sendiri memberikan kendali penuh terhadap bahan makanan, kebersihan, serta ukuran porsi yang dikonsumsi sehingga lebih mudah menerapkan pola makan sehat.
Meski demikian, bukan berarti seluruh makanan rumahan otomatis menyehatkan. Cara mengolah makanan tetap menjadi faktor yang sangat menentukan nilai gizinya.
Dr. Agrawal menjelaskan bahwa penggunaan minyak, mentega, atau gula secara berlebihan, serta kebiasaan menggoreng makanan terlalu sering, tetap dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Hal serupa juga berlaku jika menu sehari-hari didominasi karbohidrat olahan, seperti nasi putih atau tepung maida, tanpa diimbangi protein dan serat yang cukup.
Selain teknik memasak, variasi menu juga berperan penting. Pola makan sehat di rumah sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu jenis makanan, melainkan mencakup biji-bijian utuh, aneka sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, sumber protein rendah lemak, serta lemak sehat.
Ia menambahkan bahwa keseimbangan asupan nutrisi jauh lebih penting dibanding sekadar memastikan makanan dimasak di rumah. Menghilangkan salah satu kelompok zat gizi justru dapat mengurangi manfaat kesehatan yang ingin diperoleh.
Pada akhirnya, masakan rumahan memang berpotensi menjadi pilihan yang lebih sehat sekaligus memberikan kenyamanan secara emosional. Namun, manfaat tersebut baru bisa dirasakan apabila didukung pemilihan bahan berkualitas, teknik memasak yang tepat, serta pola makan yang beragam dan seimbang.
