
Jakarta – Bagi banyak anak muda, minum kopi bukan lagi sekadar kebiasaan untuk mengusir kantuk. Bagi Gen Z, aktivitas ngopi juga kerap menjadi cara sederhana untuk menikmati waktu sendiri di tengah berbagai tekanan kehidupan.
Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan media sosial yang begitu cepat. Selain menghadapi persoalan finansial, pekerjaan, dan kehidupan sosial, mereka juga terus terpapar berbagai informasi dari internet. Kondisi tersebut membuat kelompok usia ini disebut cukup rentan mengalami stres dan kecemasan.
Tak heran jika kedai kopi kemudian berkembang menjadi salah satu tempat yang digemari Gen Z. Secangkir kopi dianggap sebagai little treat atau bentuk penghargaan kecil untuk diri sendiri.
Namun, pilihan kopi generasi ini ternyata cukup berbeda. Alih-alih menikmati kopi hitam, mereka cenderung memilih minuman yang diberi susu, sirup, foam, maupun berbagai topping.
Dikutip dari Perfect Daily Grind, berikut beberapa fakta mengenai kebiasaan Gen Z dan kopi.
1. Tekanan hidup membuat Gen Z rentan stres
Gen Z menghadapi berbagai sumber tekanan, mulai dari persoalan ekonomi, kehidupan sosial, hingga kondisi politik. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap tingkat stres dan kecemasan mereka.
Data dari American Psychological Association bahkan menunjukkan bahwa hingga 50 persen Gen Z mengaku mengalami stres berat. Sebagian di antaranya juga merasa kondisi tersebut membuat mereka kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
Pandemi Covid-19 turut memberikan tantangan tersendiri. Banyak anggota Gen Z yang ketika itu baru memasuki dunia kerja harus menghadapi kondisi ekonomi tidak menentu, yang kemudian berpengaruh terhadap perjalanan karier dan penghasilan.
2. Ngopi menjadi bentuk ‘little treat’
Selain tekanan kehidupan nyata, media sosial juga dapat memberikan beban tersendiri. Melihat kehidupan orang lain secara terus-menerus dapat memunculkan FOMO atau Fear of Missing Out.
Untuk mengimbanginya, sebagian Gen Z mencari aktivitas kecil yang memberikan rasa senang. Konsep self-care dan little treat pun semakin populer, salah satunya melalui kebiasaan membeli minuman kopi.
Kopi dengan tampilan menarik dan berbagai pilihan rasa menjadi salah satu bentuk hiburan yang mudah dijangkau. Kedai kopi juga tidak sekadar menjadi tempat membeli minuman, tetapi dapat berfungsi sebagai ruang untuk bersantai dan melarikan diri sejenak dari rutinitas.
3. Selera kopi Gen Z lebih eksperimental
Kopi hitam ternyata bukan pilihan utama sebagian besar Gen Z. Mereka justru lebih tertarik pada minuman yang dapat disesuaikan dengan selera, misalnya es kopi dengan tambahan sirup, foam, susu, atau topping tertentu.
Mike Healy dari Lost Sheep Coffee menilai bahwa kopi bagi Gen Z juga berkaitan dengan ekspresi diri. Pilihan minuman dapat dipengaruhi oleh tren yang sedang berkembang maupun figur yang mereka ikuti di media sosial.
Dengan demikian, rasa kopi bukan satu-satunya pertimbangan. Tampilan, tren, dan kemampuan mengkustomisasi minuman turut menentukan pilihan.
4. Waspadai kandungan gula pada kopi kekinian
Kopi dengan tambahan gula memang dapat memberikan rasa nyaman dalam waktu singkat. Namun, kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan justru perlu diperhatikan.
Gula dapat memengaruhi sejumlah mekanisme tubuh yang berkaitan dengan respons stres. Beberapa penelitian juga mengaitkan konsumsi gula berlebih dengan kecemasan dan gangguan suasana hati.
Bagi seseorang yang sudah sering mengalami stres, menjadikan minuman kopi manis sebagai pelarian setiap hari tentu bukan pilihan yang ideal. Kebiasaan tersebut justru dapat berlawanan dengan tujuan awal minum kopi sebagai bentuk self-care.
5. Kopi hitam punya sejumlah keunggulan
Jika ingin mendapatkan manfaat kopi dengan tambahan kalori yang lebih rendah, kopi hitam dapat menjadi pilihan. Minuman ini secara alami mengandung antioksidan dan tidak memiliki tambahan gula maupun lemak seperti yang terdapat pada banyak minuman kopi kekinian.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi kopi dengan manfaat bagi kesehatan jantung, metabolisme, dan kemungkinan mendukung umur panjang.
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Pharmacology turut membahas hubungan kopi dengan gut-brain axis, yaitu hubungan antara sistem pencernaan dan otak. Mekanisme tersebut berpotensi berkaitan dengan kondisi kecemasan dan depresi.
Mike Healy menyebut manfaat kopi dapat lebih optimal ketika minuman tersebut tidak dipenuhi tambahan gula dan lemak. Artinya, menikmati kopi sebagai bagian dari gaya hidup tetap perlu diimbangi dengan memperhatikan jenis dan bahan tambahan yang digunakan.
Pada akhirnya, ngopi sebagai bentuk hiburan sesekali tentu bukan persoalan. Namun, jika kopi dijadikan pelarian utama setiap kali stres, penting untuk tetap memperhatikan kandungan gula serta menjaga pola konsumsi agar tidak berlebihan.
