
Jakarta – Telur selama ini kerap dianggap sebagai salah satu makanan yang perlu dihindari ketika ingin menjaga kadar kolesterol. Pasalnya, kuning telur memang mengandung kolesterol cukup tinggi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi telur tidak selalu menyebabkan kadar kolesterol jahat atau LDL meningkat.
Telur menjadi sumber protein yang populer karena mudah diolah dan harganya relatif terjangkau. Dalam satu kuning telur terdapat sekitar 186 mg kolesterol. Telur juga mengandung lemak, dengan jumlah yang berbeda-beda tergantung jenisnya.
Kandungan tersebut membuat telur sering dikaitkan dengan peningkatan kolesterol darah. Padahal, pengaruh makanan terhadap kadar kolesterol tidak hanya ditentukan oleh jumlah kolesterol yang terkandung di dalamnya.
Peneliti Bandingkan Konsumsi Telur dan Tanpa Telur
Studi yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition mencoba melihat apakah telur benar-benar menjadi penyebab meningkatnya kolesterol, atau justru makanan pendamping telur seperti bacon, mentega, dan keju yang lebih berpengaruh.
Dikutip dari Eating Well, penelitian yang dilakukan University of South Australia tersebut melibatkan 61 orang dewasa berusia 18-60 tahun. Seluruh peserta memiliki kadar kolesterol LDL normal dan tidak menggunakan obat yang dapat memengaruhi kadar lemak darah.
Para peserta kemudian menjalani tiga pola makan berbeda. Masing-masing pola diet dilakukan selama lima minggu.
- Control Diet: hanya mengonsumsi satu telur per minggu.
- Egg Diet: mengonsumsi dua telur setiap hari.
- Egg-Free Diet: tidak mengonsumsi telur sama sekali.
Jumlah kalori pada setiap pola makan dibuat sama. Para peserta juga mendapat pemantauan dari ahli gizi. Urutan diet dibuat secara acak dan kadar lipid darah diperiksa setelah setiap periode diet selesai.
Konsumsi Dua Telur Sehari Justru Menurunkan LDL
Hasil penelitian cukup menarik. Ketika menjalani pola makan dengan dua telur setiap hari, peserta mengalami penurunan kadar kolesterol LDL, kolesterol total, serta ApoB dibandingkan ketika mengikuti pola makan dengan hanya satu telur per minggu.
Sementara itu, ketika telur sama sekali tidak dikonsumsi, kadar kolesterol memang tetap rendah, tetapi tidak ditemukan perubahan signifikan pada sejumlah penanda lipid lainnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kolesterol dari makanan, termasuk yang terdapat dalam telur, tidak selalu berdampak langsung terhadap peningkatan kolesterol LDL dalam darah.
Sebaliknya, lemak jenuh justru memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap peningkatan kadar kolesterol LDL.
Bukan Berarti Bebas Makan Telur Tanpa Batas
Penelitian ini menemukan bahwa konsumsi dua telur per hari sebagai bagian dari pola makan yang rendah lemak jenuh dapat dikaitkan dengan penurunan kolesterol LDL. Namun, hasil tersebut belum bisa dijadikan alasan untuk mengonsumsi telur tanpa memperhatikan pola makan secara keseluruhan.
Peneliti juga mengakui adanya sejumlah keterbatasan. Jumlah peserta relatif kecil dan seluruhnya merupakan orang dewasa sehat, sehingga hasilnya belum tentu berlaku pada semua kelompok masyarakat.
Selain itu, penelitian tersebut mendapatkan pendanaan dari Egg Nutrition Center. Kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, meskipun peneliti menyatakan pihak sponsor tidak terlibat dalam perancangan maupun analisis penelitian.
Dengan demikian, telur tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola makan secara keseluruhan, terutama membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan tetap mengonsumsi sumber protein serta makanan bergizi lainnya secara seimbang.
